





Siang hari begitu panas menyengat,,bantal menjadi temanku.. rebah badanku terasa dingin empuk,,, jam dinding menunjukkan pukul satu, siang itu kami hendak menuju kepulau seberang.. perjalanan akan panjang..
Sore tepat pukul empat sore harus menuju kerumah si Gondrong., takut telat kapal lagi.
Si gondrong dah menunggu sedari tadi dengan sedikit wajah agak menggerutu,,,santai saja brooo,, hehehe,, senyum cengir sedikit untuk mencairkan suasana..bergegas tanpa banyak komentar menuju Pelabuhan Feri.,
Masih dengan pemandangan yang sama, masih kulihat Pulau Makasar ketika melewati selat antara Baubau - Wamengkoli,, matahari mulai condong,,sangat was-was,. apakah kami bisa melewati perjalanan ini..???
Memasuki pertigaan jalan antara Wamengkoli - Wadiabero.., matahari condong masih membiaskan sinarnya. jalan masih tampak didepan kami,, jalan agak kecil kami telusuri dengan kendaraan roda dua,,tampak dari kejauhan bukit karst yang sangat indah seperti tertata rapi.. baru kali ini kulewati jalan ini.. tapi tidak ada salahnya mencoba,, kuikuti beberapa kendaraan yang menuju kearah, entah sama dengan kami,,.
dicampur cerita dan obrolan tak terasa kami melewati sebuah pegunungan indah yang begitu landai..tak banyak rumput,,semak belukar sesekali menghiasi jalan kami,, tak ayal kulihat sebuah pohon asam yang berdiri sendiri ditepi jalan..yang konon mempunyai cerita mistis.. tak ragu-ragu ku klakson saat lewat didepan pohon itu dan berlalu..
beberapa perkampungan telah kami lewati.. tibalah kami di Desa Wadiabero, melewati jalan pengerasan dengan batu suplit tiga perempat yang baru saja dihampar..laju motor kuatur perlahan takut jatuh,,suara qomat shalat magrib begitu menggetarkan hati.. berujung dipertigaan Desa Wadiabero kami memasuki daerah Sangia Wambulu lebih dikenal dengan sebutan Baruta Lestari,. diperjalanan kami dihentikan dengan bapak yang berseragam coklat yang ternyata adalah polisi,,memeriksa bagasi motor dan menanyakan SIM beserta STNK.., untung saja pisau sangkur yang ada didalam tas sudah diamankan.,maklum acara pesta kampung didesa sebelah akan digelar beberapa jam lagi. Kamilah salah satu peminatnya..hehehe
Beberapa menit kemudian, tibalah kami di Desa Tolandona,,yang masih dalam lingkup Sangia Wambulu. suara laser dan elekton begitu menggema..tiba-tiba terhenti sejenak oleh Suara Azan shalat Isya.. tubuh terasa lelah, kucari empunya rumah dengan meminta segelas air putih yang segar. Si gondrong mulai ambil beberapa gambar dalam acara ini.
Salah satu acara tahunan yang selalu digelar oleh masyarakat yang ada diseputaran Sangia Wambulu tepatnya didepan Kantor Lurah Tolandona adalah acara Kande-Kandea yang biasa juga disebut acara Tompa (suap). sebuah bentuk ritual adat yang telah dilakukan turun temurun sejak zaman Kesultanan sampai sekarang, yang dalam acara tersebut paling ditunggu kaum remaja. telah beberapa kali kuikuti acara adat ini, tetapi si gondrong baru kali ini., senang bukan main..kami coba masuk dalam sesi perdana acara ini.. sambil berdesakan masuk kedalam acara tersebut, kami pilih tempat yang telah disediakan lalu duduk menghadap talang yang didalamnya telah diisi berbagai macam makanan khas daerah.,sembari didendangkan sebuah lagu yang disebut dengan Kadandio (sebuah pantun penghantar) sebelum kami disuapi para gadis-gadis cantik penjaga talang.. sedikit canda dalam gerakan kami tapi itu ternyata hal yang biasa dalam acara ini. setelah penyanyi Kadandio berhenti kami harus berdiri dan memberikan sedikit uang kecil sebagai syarat telah duduk didepan talang,. dalam prosesi acara tahunan kali ini begitu ramai, karena akan dihadiri langsung oleh Bupati.. tetapi karena ada aral melintang maka Wakil Kapolres yang menghadiri., acara berjalan dengan lancar walaupun sedikit agak berdesak-desakan, kemudian ditutup dengan acara joget semalam suntuk.
Bergeser dari tempat hiruk pikuk acara joget dengan suara laser yang menggelegar. Kami menuju sebuah pondokkan kecil rumah teman akrab SMA, yang biasa kami panggil dengan nama si Phoce,, Saya, Nasir n' Si gondrong tak ayal juga duduk bersama disebuah tempat peristrahatan serambi rumah yang disebut Godhe-godhe.,, sedikit tuak ditegak untuk menghangatkan badan..sudah menjadi kebiasaan para muda-mudi didaerah ini.,sebelum masuk ke acara joget harus menegak tuak walaupun sedikit.,untuk menghargai teman adalah hal yang wajar yang penting tidak berlebihan..^^^^
Mungkin kami lebih baik tidur untuk menghilangkan rasa ngantuk yang melanda...
Pukul Lima tepat kami bangun sambil menyiapkan diri untuk kembali ke Baubau., suara laser yang menggelegar itu masih nyaring terdengar sedikit lagi matahari akan terbit... seolah-olah tak ada yang peduli kalau hari itu sudah pagi., air hangat membasuh tenggorokan, lalu pamit bergegas pulang., mengintari jalan-jalan kecil yang kami lewati kemarin sore., si Gondrong mulai memainkan keahliannya.. jepret sana..jepret sini..,hhhwwuuuuaaafffttt.. masih ngantuk,,,,
Perjalanan pagi ini sangat menyegarkan kami masih banyak ditumbuhi pohon jati yang rindang,sesekali kami melihat pohon kelapa..,melewati desa yang mempunyai teluk begitu indah,, tibalah kami didesa Wadiabero kembali..jalanannya masih sama seperti sore kemarin., sejenak istrahat melepas lelah.. kemudian mengintari kembali desa Wadiabero yang mempunyai potensi gua berair yang sangat banyak., masyarakat didesa ini menggunakan gua berair sebagai tempat mandi dan mencuci,. airnya sangat jernih dan segar., tetapi kondisinya tidak seperti dulu lagi..banyak kotoran dimulut gua seperti bungkusan sabun dan shampo yang berserakan dimana mana tak terpelihara.,setelah mengambil dokumentasi.. lalu beranjak pergi.
Menuju desa sebelah banyak kami temukan gua berair lagi. sedikit dokumentasi kemudian sedikit canda lalu beranjak lagi..^^ si Gondrong sedikit menghayal., andaikan semua gua ini terpelihara dengan baik, maka potensinya sangat besar..
Tibalah kami disebuah pertigaan yang sangat tajam sebelum memasuki daerah Wamengkoli., kami melihat semua papan proyek pembuatan Lokasi Tempat Wisata, melihat kondisi ini,, hati mulai tergugah lagi.. menyusuri hutan kecil yang menjorok kebawah kurang lebih tiga ratus meter., didapati dua buah kolam mata air dengan air yang sangat jernih kami dapati sebuah dudukan sesajen dari janur dan kelapa yang digantung tidak jauh dari mata air itu, sangat sakral dan keramat,.. membasuh muka dengan air yang sangat jernih adalah hal yang mengasikkan.., segar lagi euuyyyy...,,
Tebing karst yang sangat terjal mengasah pikiranku, kapan aku bisa melakukan panjat tebing..,, hhhuuummmmmfftt
Beranjak dari situ kami melihat segerombolan monyet hutan yang berada diatas pohon dan sangat ramai..mungkin mengetahui kedatangan kami.
Menuju pelabuhan feri adalah tempat terakhir.. untung saja tidak ketinggalan lagi.. ternyata si Gondrong siang itu langsung menuju ke Pelabuhan untuk berangkat menuju tempat peraduaanya.. perjalanan yang sangat melelahkan dan mengasikkan.
Tq. To. Phoce, Nasir, Rahman Tr,, (Nice trip) Kapan lagi yaa..????